RATUPERIH

RATUPERIH
#RATUPERIH Adalah komunitas sosial media publik berlandaskan seduluran selawase mengutamakan kepentingan keluarga "POKOK,E HORE RAME RAME" Endel di komentar facebook inbox dan WA sewajarnya

TERHARU, Ratu perih Dan Panti Asuhan Al-Hasan Watugaluh Diwek Jombang

Renungan Bersama Ratu Perih Dan Al Hasan

Ratu Perih berkunjung ke Panti Asuhan Al-Hasan di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Minggu, 03 Maret 2019 Turut serta dalam kegiatan tersebut Baim haji, Muslimah ima ima TAILOR, Tri Wahyuni, Exmud majesti MSI, Riska Wardhani Oriflame, Anik Sudarti NASA, Ning Rianing MSI, Ika romantika Samsul Duta collection serta beberapa anak anaknya.
Ratu Perih



















































Pada kesempatan yang penuh haru tersebut telah disalurkan bantuan dari donatur Teman teman Facebook baik dari anggota Ratu perih dan beberapa dari yang hanya mengenal Kami, Semoga bermanfaat Allah yang akan membalas kebaikan Kalian semua baik yang turut serta dalam kunjungan, donatur, atau yang sudah mendoakan suksesnya acara tersebut.
cuaca sangat panas, Walau saat itu sedang musim hujan, hari itu saya merasa gerah oleh teriknya cuaca akupun merasa kasihan serta kagum kasihanya mereka yang saya sebut sudah meluangkan waktu sudah berdandan naik motor jauh jauh kepanasan hanya untuk membantu dan menjadi saksi suksesnya penyaluran dana dari para donatur ratu perih semoga lunturnya bedak lipstik dan hitamnya kulit akibat kepanasan tak menyusutkan semangatmu dan allah maha tau niat yang ada dalam hatimu allah menjanjikan kebaikan bagi kalian aamiin.

Ratu perih dan Panti Asuhan Al Hasan Terharu dan bahagia

Ratu perih berkunjung ke di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang cuacanya sangat terik tapi itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk mengendarai sepeda motor. Tak berapa lama saya sampai di pintu gerbang Panti Al-Hasan. Kalau dilihat dari luar memang tempat itu suasananya sepi. Tapi begitu saya mengucap salam ke dalam, saya disambut Puluhan anak kecil yang siang itu sedang bermain bersama.
Anak kecil laki-laki dan perempuan dari berbagai usia berebutan bersalaman. Namun secara umum saya memastikan mereka semua masih usia sekolah dasar. Sebagain lain berlarian menyambut kehadiran kami. Ada perasaan senang di hati saya ketika mereka menjawab salam kami dengan riang namun kebahagiaan itu hanya sejenak tak lama kemudian hati saya terasa teriris ketika menyaksikan BAYI anak yatim Al-Hasan kurang lebih ada 5 bayi tanpa asuhan ibu kandungnya beberapa dari kami ada yang menangis melihat haru senyum ketegaran si bayi dan ada pula yang gemetar saat menggendong bayi tersebut, ya allah andaikan aku kau jadikan seperti mereka di besarkan dalam panti asuhan tak tau siapa bapak ibu ku dan tak minum air susunya apa aku sanggup (dalam hati aku merenung).
Tulisan ini saya ungkap berdasarkan fakta hanya untuk bukti motivasi dan dorongan pada pembaca kalau ada niat segerakan seruh lah teman kita pada kebaikan dan bertindaklah mereka membutuhkan bantuan kita bukan hanya doa atau seruan status kebaikan dan caption tentang kebaikan saja. SEMANGAT BERBURU BERKAH ALLAH

Hukum Mengumumkan Amal ke Media Sosial

Apa hukumnya jika kita melakukan aksi bakti sosial di tengah masyarakat, kemudian mengunggahnya di media sosial untuk mengumumkan kepada khalayak bahwa kita telah melakukan amal kepada masyarakat? Apakah termasuk riya atau malah positif karena akan menginspirasi orang lain berbuat kebaikan serupa?

Terkait dengan pertanyaan tersebut, ada baiknya kita kutip lebih dulu terjemahan ayat Alquran berikut ini, "Jika kamu menampakkan sedekah-sedekah-(mu) maka itu adalah baik, dan jika kamu menyembunyikannya (sedekah itu) dan kamu berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kamu; dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahan kamu; dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS al-Baqarah [2]: 271).

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa pada dasarnya penyampaian sedekah dengan cara terbuka maupun tertutup keduanya adalah perbuatan baik. Namun demikian, penyerahan sedekah yang dilakukan dengan cara tertutup (tidak diobral kepada orang banyak) itu lebih baik lagi. Rasulullah sallallahu alaihi wassalam mengistilahkannya dengan sebutan memberikan (sedekah) dengan tangan kanan dan karena sangat ikhlas, tangan kirinya tidak melihat apa yang diberikan oleh tangan kanan.

Dihubungkan dengan pertanyaan itu, bakti sosial yang Anda dan kawan-kawan Anda lakukan semoga termasuk ke dalam kategori ibadah yang bersih dari motof-motif riya. Bila kemudian Anda unggah kegitan baksos itu ke beberapa media sosial sehingga diketahui orang banyak, insya Allah, tidak masalah selama tujuannya demi syiar kebaikan baksos itu sendiri supaya diikuti oleh orang-orang yang lain.

Dengan kalimat lain, pengunggahannya ke media sosial tidak dimaksudkan untuk pamer apalagi demi motif-motif tertentu yang berlawanan dengan tuntunan agama sebagaimana yang diingatkan Alquran dalam surah al-Ma'un. Riya itu sejatinya adalah perbuatan hati yang kemudian diekspresikan dengan perilaku.

Nah, perilaku itulah yang merepresentasikan niat yang ada di dalam hati si pelakunya. Bahasa sederhananya, pengunggahan sedekah termasuk yang dalam bentuk bakti sosial dibolehkan dalam arti tidak termasuk riya manakala semata-mata demi syiar dan pemberitahuan (laporan) kepada masyarakat luas, terutama para donator bakti sosial itu sendiri. (dan ratu perih masih menyembunyikan Identitas para donatur)

Malahan, ini yang lebih baik demi transparansi dan pertanggungjawaban laporan. Pengunggahan perbuatan sedekah ke media sosial akan menjadi riya manakala maksudnya untuk dipuja-puji atau ada motof lain yang berlawanan dengan perintah bersedekah itu sendiri. Demikian, semoga bisa memberikan pencerahan. Terima kasih.
Di kutip Oleh
KH Prof Dr Muhammad Amin Suma
Ketua Dewan Syariah Dompet Dhuafa

Dua Keadaan Mengapa Menceritakan Amalanya

Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Seseorang yang menceritakan amalan-amalan taat yang dilakukannya tidak terlepas dari dua keadaan:

Pertama, motivasi utama pelakunya adalah ingin dikatakan saleh dan orang baik serta memamerkan amal kebaikannya. Ini sangat berbahaya karena bisa membatalkan amalan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hambanya menyucikan diri-diri mereka dengan firmna-Nya, “Janganlah kalian sucikan diri-diri kalian, Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).

Kedua, motivasi dia melakukan hal itu adalah untuk menceritakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang-orang yang mendengar kabar tersebut darinya ikut terdorong untuk mencotoh apa yang mereka saksikan. Tentu saja menceritakan amalan pada saat ini adalah perbuatan terpuji, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan terhadap nikmat dari Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Barangsiapa di dalam Islam mencontohkan suatu perbuatan yang baik, maka baginya ganjaran seperti ganjaran orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat.” (Nur ‘Ala Darb, 12:30).

Imam Ath-Thabary rahimahullah mengatakan, “Ada sebuah atsar (amalan generasi salaf) tentang keutamaan membaca Alquran dengan memperdengarkan suara dan ada pula atsar tentang melirihkan bacaan. Atsar ini dapat dikompromikan dengan cara, melirihkan bacaan lebih baik bagi siapa yang khawatir disusupi riya’ dan membaca dengan suara yang keras lebih baik bagi siapa yang tidak khawatir riya’ dengan syarat tidak mengganggu orang yang salat, tidur, atau yang lainnya. Amal yang zahir (nampak) itu terkadang berpengaruh bagi orang lain, maksudnya oarang lain bisa mendengarkan, memetik pelajaran, terpengaruh, atau sebagai syi’ar agama. Perbuatan ini juga bisa berpengaruh bagi orang yang membaca dengan keras tersebut; bisa membangunkan hatinya yang lalai, menghimpun semangatnya, mengusir rasa kantuk, dan menjadikan orang lain semangat untuk beribadah. Ketika seseorang memiliki salah satu dari motivasi ini, maka membaca dengan suara yang keras lebih baik dibanding dengan suara yang samar-samar.” (Tuhfatul Ahwadzi, 8:191).

Apabila menceritakan nikmat Allah termasuk menisbatkan keutamaan kepada Allah, pengakuan atas anugerah-Nya kepada hamba-Nya, pengakuan bahwasanya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia, atau memberikan teladan kepada orang-orang untuk berbuat kebajikan sehingga setiap orang yang mencontohnya beramal ia juga medapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, maka ini disyariatkan.

Namun sebaliknya, apabila hal itu dimotivasi untuk menyucikan diri, supaya jadi orang mulia, ingin dilihat dan didengar orang, mendapatkan kedudukan agar ditaati, yang demikian perkara yang tercela dan jelek.

Kedua, apabila seseorang menceritakan nikmat Allah dalam koridor yang disyariatkan, tetapi orang-orang tetap memujinya sehingga ia merasa tersanjung, namun di hatinya tidak terselip ingin dilihat dan didengar orang, maka hal ini termasuk kabar gembira yang Allah segerakan bagi orang-orang beriman.

Disegerakannya kabar gembira seorang mukmin apabila ia beramal saleh dengan mengharap wajah Allah. Orang-orang pun menghormatinya tanpa bergantung padanya dikarenakan amal saleh yang sering ia tampakkan. Ia pun tampak terhormat di hadapan orang dan dipuji dengan pujian yang baik. Ia pun kagum dengan kabar gembira ini.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Dzar radhiallahu’anhu ia mengatakan, “Ada yang mengatakan kepada rasulullah, ‘Apa pendapatmu jika seseorang yang beramal saleh, lalu orang-orang pun memujinya?’ Beliau bersabda, ‘Itulah kabar gembira yang disegerakan bagi orang yang beriman’

Semoga ratu perih selalu kompak ratu perih Berpegang teguh pada yang baik baik dari sumber yang baik yakni Al Quran dan Hadits dan selalu menebar kebaikan. Serta dapat menghindari maksiatnya dunia maya bahkan di jauhkan dari sifat sifat buruknya hati saat bersocial media. Mari jadikan social media sebagai saranah menambah pahala kita dengan mengajak kebaikan dan di hindarkan dari bisikan seruan yang dapat menjerumuskan kita pada kelalaian dengki dan dosa lainya. Aamiin Aamiin aamiin
KESERUAN DAN KEMERIAHAN KAMI DALAM BERBAGI

























































 




















Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel