RATUPERIH

RATUPERIH
#RATUPERIH Adalah komunitas sosial media publik berlandaskan seduluran selawase mengutamakan kepentingan keluarga "POKOK,E HORE RAME RAME" Endel di komentar facebook inbox dan WA sewajarnya

Waras Bermedia Sosial

Prinsip Bermedia Sosial

Waras Sosial media
Keranjingan terhadap media sosial malah menimbulkan sebuah masalah baru, yaitu hadirnya sikap antisosial. Banyak yang beranggapan bahwa kehadiran media sosial telah membentuk budaya yang antisosial. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bersosialisasi dengan sesama malah dihabiskan hanya untuk bermedia sosial. "Apakah benar bahwa media sosial dapat membuat penggunanya menjadi antisosial?" Ketika pertanyaan seperti ini diajukan kepada sejumlah pengguna media sosial, 78% menjawab iya, dan 22% menjawab tidak. Artinya, hampir semua pengguna setuju bahwa media sosial memang dapat membuat penggunanya menjadi antisosial. Lalu, pertanyaan yang muncul kemudian, "Apakah dapat disimpulkan bahwa media sosial media yang antisosial?" Tentu saja jawabannya tidak.

Dalam hal ini, menurut Ratu Perih, ada tiga prinsip esensial yang harus diketahui oleh pengguna media sosial sebelum telanjur menjadi antisosial.

  • Prinsip pertama adalah prinsip media sosial sebagai media dan bukan tujuan. Prinsip ini adalah prinsip yang hakiki, tetapi sering terabaikan, sehingga berdampak pada munculnya sikap antisosial. 


Banyak di antara pengguna media sosial secara tidak sadar menjadikan media sosial sebagai tujuan dari sosialisasi, padahal media sosial hanya berperan sebagai media, yang membantu manusia mencapai tujuan dari sosialisasi, yakni terjun secara nyata di dalam masyarakat.


  • Prinsip kedua adalah prinsip dua arah dari media sosial. Prinsip ini ingin mengatakan bahwa media sosial tidak diciptakan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan agar terciptanya interaksi dan komunikasi dua arah, baik secara personal maupun komunal. Namun, prinsip ini sering dilupakan karena banyak pemakai media sosial yang hanya berpusat pada dirinya sendiri. 


Seorang ahli psikologi, dalam penelitiannya juga mengatakan bahwa di dunia maya, budaya membicarakan tentang diri sendiri mendapat ruang yang lebih besar, sehingga penggunanya cenderung mengabaikan orang lain. Dampak dari sikap egosentris ini adalah hilangnya prinsip dua arah dari media sosial. Terlalu banyak membicarakan mengenai diri sendiri berpotensi menghilangkan kesempatan untuk mendengar dan memerhatikan cerita orang lain. Akibatnya, yang tercipta adalah jurang komunikasi antara satu pengguna dengan pengguna media sosial yang lain. Jurang tersebutlah yang pada akhirnya menjadi benih yang menumbuhkan sikap antisosial.


  • Prinsip ketiga adalah tentang adanya kepuasan sosialisasi di dunia nyata yang tidak didapatkan di dunia maya. Banyak pengguna media sosial yang tidak sadar bahwa ada kepuasan tersendiri ketika menjalani proses sosialisasi di dunia nyata dan kepuasan itu tidak dapat ditemukan di dunia maya. Prinsip ini juga ditegaskan oleh Brian A. Primack dalam penelitiannya mengenai teknologi dan kesehatan. Ia mengatakan bahwa "mereka yang banyak menggunakan media sosial tak punya banyak waktu untuk menjalani pengalaman sosial langsung yang lebih memuaskan." Artinya, kepuasan dalam proses sosialisasi di dunia nyata sama sekali tidak dapat ditukar oleh media sosial. 


Proses sosialisasi di dunia nyata menyimpan banyak keindahan. Sentuhan fisik, gerak tubuh, dan tatapan mata merupakan beberapa bentuk keindahan yang hanya dapat diperoleh dalam proses sosialisasi di dunia nyata. Seandainya pengguna media sosial dapat memahami prinsip ini, maka tidak ada lagi alasan baginya untuk melanyak proses sosialisasi di dunia nyata.

Bermedia Sosial dengan Waras

Media sosial hanyalah alat yang membantu manusia supaya lebih mudah dalam proses bersosialisasi di dunia nyata. Namun karena pemahaman yang tumpul akan fungsi dan peran tersebut, banyak pengguna media sosial yang akhirnya terperangkap dalam sikap antisosial. Oleh karena itu, untuk menghindari dampak tersebut, maka perlu ada edukasi khusus untuk para pengguna media sosial.

Edukasi tersebut bisa dilakukan secara nyata di rumah, di sekolah, dan di tempat ibadah. Edukasi itu pun dapat dilakukan di dunia maya, dengan cara mendiskusikan topik-topik seperti ini, baik di dalam grup diskusi ataupun secara perseorangan. Selain itu, menulis di media sosial juga menjadi cara terbaik untuk mendidik penggunanya. Tulisan yang dibaca oleh pengguna media sosial akan berpengaruh dalam cara ia menggunakan media sosial.

Jika tulisan yang dibaca bersifat konstruktif dan dapat membangun kesadaran akan pentingnya keseimbangan sosialisasi di dunia maya dan di dunia nyata, maka pengguna akan semakin bijak dalam memanfaatkan media sosial. Sebaliknya, jika tulisan yang sering dibaca oleh pengguna media sosial bersifat destruktif dan tidak membangun kesadaran dalam penggunaan media sosial, maka sudah pasti efek buruk dari media sosial lebih mungkin untuk terjadi. Oleh karena itu, di era media sosial ini, setiap kita ditantang agar bisa menjadi waras dalam bermedia sosial.

Media Sosial Paling Populer di Indonesia

Berdasarkan data WeAreSocial.net dan Hootsuite 2017, perkembangan penggunaan internet di Indonesia sangat pesat, yakni tumbuh 51% dalam kurun waktu satu tahun. Dengan angka pertumbuhan yang jauh melampaui angka pertumbuhan penggunaan internet di dunia, yaitu 10%, Indonesia menempati urutan ke dua pengguna internet terbesar sejagat.
Lebih dari 69% masyarakat Indonesia mengakses internet dengan menggunakan perangkat mobile mereka. Angka tersebut juga melampaui penggunaan internet via mobile secara global, yakni 50%. Angka tersebut tertinggi ke empat di dunia. Hasil survey globalwebindex pada pengguna internet di Indonesia dalam rentang usia 16-64 tahun, menunjukkan bahwa ada beberapa platform media sosial yang aktif digunakan oleh masyarakat Indonesia. Platform tersebut terbagi dalam dua kategori media sosial, yaitu media jejaring sosial dan messenger. Youtube menempati peringkat pertama dengan persentase penggunaan sebesar 43%, di peringkat ke dua Facebook dengan persentase penggunaan sebesar 41%, kemudian Whatsapp dengan persentase penggunaan sebesar 40%.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel